Banyak ibu hamil jadi lebih hati-hati dalam memilih makanan. Hal ini wajar, karena selama kehamilan makanan yang dikonsumsi bukan hanya berpengaruh pada tubuh ibu, tetapi juga mendukung tumbuh kembang janin.
Salah satu bahan makanan yang sering dipertanyakan adalah MSG atau micin. Banyak yang menganggap ibu hamil harus menghindari micin sepenuhnya karena khawatir berpengaruh pada janin, memicu kontraksi, atau membuat anak yang lahir menjadi kurang cerdas. Padahal, anggapan ini perlu dilihat secara lebih ilmiah.
Secara umum, MSG boleh dikonsumsi ibu hamil selama digunakan dalam jumlah wajar. FDA mengategorikan MSG sebagai bahan pangan yang aman atau Generally Recognized as Safe (GRAS).
Micin bukan termasuk makanan yang otomatis dipantang untuk ibu hamil. Selama dikonsumsi dalam jumlah wajar, MSG dapat dicerna tubuh dan tidak terbukti menimbulkan dampak buruk pada mayoritas orang, termasuk saat hamil.
Ada dua alasan utama mengapa MSG tidak perlu langsung dianggap sebagai pantangan. Pertama, MSG berasal dari glutamat, yaitu asam amino yang juga terdapat secara alami pada makanan seperti tomat, jamur, keju, daging, dan rumput laut. Kedua, tubuh memetabolisme glutamat dari MSG dengan cara yang serupa seperti glutamat dari bahan makanan alami. FDA juga menjelaskan bahwa glutamat dalam MSG secara kimia tidak berbeda dari glutamat yang secara alami terdapat dalam protein makanan.
Healthline menjelaskan bahwa untuk sebagian besar orang, konsumsi makanan yang mengandung MSG dalam porsi wajar tidak bermasalah selama kehamilan. Namun, jika sebelum hamil seseorang memang sensitif terhadap MSG, misalnya sering merasa mual, pusing, atau tidak nyaman setelah makan makanan tinggi MSG, sebaiknya konsumsi MSG dibatasi sesuai respons tubuh masing-masing.
Dalam jumlah wajar, micin tidak terbukti membahayakan kesehatan ibu hamil. Namun, yang perlu diperhatikan adalah pola makan secara keseluruhan. Makanan yang tinggi MSG kadang juga berupa makanan ultra proses, makanan cepat saji, camilan asin, atau makanan kemasan yang tinggi natrium, lemak, dan kalori.
Jadi, yang perlu dikontrol bukan hanya MSG-nya, tetapi total asupan harian. Jika ibu hamil memiliki hipertensi, diabetes gestasional, gangguan ginjal, atau kehamilan berisiko tinggi, sebaiknya konsultasikan batas konsumsi garam, natrium, dan penyedap rasa kepada dokter.
Konsumsi MSG dalam jumlah wajar dari makanan sehari-hari belum terbukti membahayakan janin. Healthline menyebutkan bahwa konsumsi makanan dengan MSG dalam porsi normal selama hamil tidak mungkin membahayakan bayi yang sedang berkembang.
Selain itu, tinjauan keamanan oleh Walker dan Lupien (2000) menyebutkan bahwa konsumsi MSG tidak berkaitan dengan peningkatan kadar glutamat dalam ASI, dan glutamat tidak mudah melewati plasenta. Ini menjadi salah satu alasan mengapa konsumsi MSG dalam jumlah wajar tidak langsung dianggap berisiko bagi janin.
Jadi, pesan yang paling tepat adalah ibu hamil tidak perlu takut berlebihan pada MSG. Gunakan MSG secukupnya, pilih makanan yang aman, dan tetap utamakan pola makan bergizi seimbang selama kehamilan.
Tidak ada bukti kuat bahwa konsumsi MSG dalam takaran wajar dapat membuat ibu hamil cepat kontraksi. Kontraksi kehamilan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti usia kehamilan, kondisi rahim, hormon, aktivitas fisik, hidrasi, dan kondisi medis tertentu.
Jadi, jika ibu hamil mengalami kontraksi yang terasa sering, nyeri, keluar flek, keluar cairan, atau tanda bahaya lainnya, penyebabnya tidak bisa langsung dikaitkan dengan micin. Segera konsultasikan ke dokter atau bidan untuk mendapatkan pemeriksaan yang tepat.
Tidak ada bukti ilmiah kuat bahwa konsumsi MSG dalam jumlah wajar saat hamil membuat anak yang lahir menjadi bodoh. Anggapan ini lebih banyak berasal dari mitos seputar micin.
Fernstrom (2018) menjelaskan bahwa konsumsi MSG melalui makanan tidak meningkatkan kadar glutamat di otak dan tidak mengganggu fungsi otak. Tubuh memiliki sawar darah-otak atau blood-brain barrier yang membatasi masuknya glutamat dari darah ke otak.
Artinya, konsumsi MSG secukupnya tidak otomatis mengganggu perkembangan otak bayi. Perkembangan kecerdasan anak jauh lebih dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti gizi ibu selama hamil, kesehatan kehamilan, stimulasi setelah lahir, kualitas tidur, lingkungan, dan pola asuh.
Saat hamil, yang perlu lebih diwaspadai bukan hanya MSG, tetapi makanan yang berisiko membawa bakteri, parasit, atau zat berbahaya. Ibu hamil perlu menghindari makanan mentah, setengah matang, dan makanan tinggi merkuri untuk menurunkan risiko infeksi atau keracunan makanan.
CDC menyarankan ibu hamil memilih makanan yang lebih aman, seperti menghindari daging mentah atau kurang matang, unggas kurang matang, telur mentah, susu mentah, keju dari susu yang tidak dipasteurisasi, seafood mentah, dan kecambah mentah.
Ibu hamil sebaiknya menghindari makanan mentah atau setengah matang, seperti telur setengah matang, daging yang belum matang sempurna, seafood mentah, atau adonan mentah. Makanan seperti ini berisiko mengandung bakteri atau parasit yang dapat menyebabkan infeksi.
Ikan sebenarnya baik untuk ibu hamil karena mengandung protein dan omega-3. Namun, ikan tinggi merkuri perlu dihindari. FDA menyarankan ibu hamil memilih ikan rendah merkuri, karena merkuri perlu dibatasi selama kehamilan dan menyusui.
FDA dan EPA juga menyarankan perempuan hamil atau menyusui mengonsumsi sekitar 8–12 ons per minggu ikan yang rendah merkuri. Jadi, ikan tidak harus dihindari sepenuhnya, tetapi jenisnya perlu dipilih dengan tepat.
Susu mentah dan produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi berisiko mengandung bakteri berbahaya, termasuk Listeria. Karena itu, ibu hamil lebih aman memilih susu dan produk susu yang sudah dipasteurisasi. CDC juga mencantumkan susu mentah dan produk susu tidak dipasteurisasi sebagai pilihan yang lebih berisiko untuk ibu hamil.
Takaran MSG tetap perlu diperhatikan. Alodokter menyebutkan bahwa ibu hamil sebaiknya membatasi asupan MSG tidak lebih dari 1500 miligram per hari. Sumber yang sama juga menyarankan ibu hamil membaca label makanan kemasan dan memperhatikan bahan lain yang dapat mengandung glutamat, seperti hydrolyzed soy protein, glutamic acid, yeast extract, sodium caseinate, dan autolyzed yeast.
Sebagai gambaran, Sasa mencantumkan informasi penyajian bahwa satu menu rata-rata membutuhkan ½ sendok teh atau sekitar 2 gram Sasa MSG. Jika masakan tersebut dimakan bersama keluarga, jumlah MSG yang masuk ke tubuh ibu hamil tentu hanya sebagian dari total masakan.
Jadi, kuncinya adalah gunakan sedikit saja, jangan berlebihan, dan tetap utamakan makanan bergizi seimbang.
Agar lebih aman dan nyaman, ibu hamil tetap bisa mengonsumsi MSG dengan cara yang bijak.
Pertama, gunakan MSG secukupnya. Tidak perlu menambahkan terlalu banyak, karena fungsi MSG adalah memperkuat rasa gurih, bukan menjadi bahan utama makanan.
Kedua, baca label makanan kemasan. MSG bisa tercantum sebagai monosodium glutamate, sodium glutamate, monosodium glutamate monohydrate, atau flavor enhancer E621. FDA juga mewajibkan makanan dengan tambahan MSG mencantumkan monosodium glutamate pada panel komposisi.
Ketiga, batasi makanan ultra proses. Makanan seperti camilan kemasan, mi instan, makanan beku, dan makanan cepat saji sering kali bukan hanya mengandung MSG, tetapi juga tinggi garam, lemak, dan kalori.
Keempat, perhatikan respons tubuh. Jika ibu hamil merasa tidak nyaman setelah makan makanan tertentu, coba catat makanan tersebut dan konsultasikan dengan dokter jika keluhan sering berulang.
Kelima, pilih makanan rumahan jika memungkinkan. Dengan memasak sendiri, ibu hamil bisa mengatur jumlah garam, gula, minyak, dan penyedap rasa sesuai kebutuhan.
Ibu hamil boleh konsumsi MSG selama tidak berlebihan. MSG dalam jumlah wajar tidak terbukti membahayakan ibu hamil, janin, memicu kontraksi, atau membuat anak yang lahir menjadi bodoh.
Yang perlu diperhatikan adalah total pola makan harian. Hindari makanan mentah, setengah matang, tidak dipasteurisasi, dan tinggi merkuri. Gunakan MSG secukupnya, baca label makanan, batasi makanan ultra proses, dan konsultasikan dengan dokter jika ibu hamil memiliki kondisi medis khusus.