Apakah MSG berbahaya sering menjadi pertanyaan bagi banyak orang. MSG atau monosodium glutamate adalah penyedap rasa yang memberi rasa gurih atau umami pada makanan. Artikel ini akan menjelaskan keamanan MSG untuk anak, lansia, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, ginjal, dan otak.
Apakah MSG berbahaya perlu dijawab dengan dasar ilmiah. Banyak lembaga pangan menilai MSG aman dalam jumlah wajar. Namun, penggunaan MSG tetap perlu disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, dan pola makan sehari-hari.
MSG tidak otomatis berbahaya bagi anak toddler jika digunakan dalam jumlah wajar. Anak tetap perlu mendapat makanan utama dari bahan segar. MSG sebaiknya hanya menjadi pelengkap rasa, bukan pengganti gizi.
Sumber studi yang dapat digunakan adalah penelitian Zhou et al. (2023) dalam jurnal Foods. Penelitian ini menilai paparan glutamat pada anak usia 2–5 tahun di China dengan metode duplicate diet. Metode ini mengukur sampel makanan yang benar-benar dikonsumsi anak selama beberapa hari. Hasil penelitian menunjukkan paparan glutamat harian pada toddler berada jauh di bawah batas aman JECFA dan EFSA. Studi tersebut menyimpulkan risiko paparan glutamat pada kelompok toddler tergolong rendah.
Orang tua tetap perlu melihat pola makan secara keseluruhan. Makanan ultra-proses seperti mi instan, snack asin, sosis, nugget, dan makanan kaleng sering tinggi natrium. Masalah utama pada anak sering bukan MSG saja, tetapi total garam, lemak, kalori, dan rendahnya asupan serat.
MSG tidak otomatis berbahaya bagi lansia. Lansia sehat umumnya dapat mengonsumsi MSG dalam jumlah kecil sebagai penyedap makanan. Namun, lansia dengan hipertensi, penyakit jantung, atau pembatasan natrium perlu lebih hati-hati.
MSG tetap mengandung natrium. Kandungan natriumnya lebih rendah daripada garam meja. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa MSG memiliki sekitar sepertiga kadar natrium dari garam meja. Karena itu, MSG dapat membantu memberi rasa gurih dengan penggunaan yang lebih sedikit.
Bagi lansia, kuncinya ada pada porsi dan jenis makanan. MSG dalam sup rumahan atau tumisan sayur berbeda dengan MSG dalam makanan cepat saji. Lansia tetap lebih baik memilih makanan segar, lauk berprotein, sayur, buah, dan makanan rendah garam.
MSG tidak terbukti berbahaya bagi ibu hamil jika dikonsumsi dalam jumlah wajar melalui makanan. Healthline menjelaskan bahwa sebagian besar orang dapat mengonsumsi MSG selama kehamilan dalam porsi normal. Kekhawatiran biasanya lebih relevan pada makanan tinggi natrium atau makanan ultra-proses.
Ibu hamil tetap perlu menjaga asupan natrium harian. Banyak makanan yang mengandung MSG juga tinggi garam, seperti makanan instan, makanan beku, saus kemasan, dan snack asin. WHO merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 2.000 mg natrium per hari. Batas ini setara dengan kurang dari 5 gram garam per hari.
Pilihan terbaik untuk ibu hamil adalah pola makan seimbang. MSG dapat digunakan sedikit pada masakan rumahan. Namun, makanan segar tetap perlu menjadi sumber utama gizi.
MSG tidak otomatis berbahaya bagi ibu menyusui dalam jumlah wajar. Glutamat juga terdapat secara alami dalam ASI. Ini penting karena bayi memang mengenal rasa umami sejak awal kehidupan.
Sumber yang dapat dipakai adalah tinjauan sistematis Sengupta et al. (2026) dalam Frontiers in Nutrition. Tinjauan ini menyebut bahwa studi manusia menunjukkan metabolisme MSG berjalan efisien. Kadar glutamat dalam ASI juga tetap stabil meskipun ibu mengonsumsi MSG. Tidak ditemukan dampak buruk pada paparan pangan yang wajar.
Studi klasik Stegink et al. juga dibahas dalam tinjauan tersebut. Setelah ibu menyusui mengonsumsi MSG dosis tunggal, glutamat plasma ibu memang naik sementara. Namun, kadar glutamat dalam ASI tidak meningkat signifikan. Hal ini menunjukkan adanya regulasi tubuh pada transfer glutamat ke ASI.
Ibu menyusui tetap perlu makan seimbang. Makanan tinggi protein, sayur, buah, karbohidrat kompleks, dan cukup cairan lebih penting daripada hanya fokus pada MSG. MSG boleh digunakan sedikit untuk membantu rasa makanan.
MSG tidak perlu ditambahkan pada makanan bayi, terutama pada bayi di bawah 1 tahun. Pada usia ini, makanan pendamping ASI sebaiknya mengenalkan rasa alami dari bahan segar. Bayi juga belum membutuhkan tambahan penyedap.
Bayi dapat dikenalkan pada rasa gurih alami dari bahan makanan. Contohnya daging, ayam, ikan, telur, tahu, tempe, sayur, dan kaldu rumahan tanpa garam berlebih. Rasa umami juga bukan hal asing bagi bayi karena glutamat terdapat secara alami dalam ASI. Food Standards Australia New Zealand menjelaskan bahwa glutamat terdapat alami pada banyak makanan, termasuk ASI.
Setelah anak masuk usia toddler, penggunaan MSG dalam jumlah kecil bisa mulai diperkenalkan secara bijak. MSG sebaiknya digunakan pada masakan rumahan yang bergizi. Jumlahnya cukup sedikit saja agar anak tetap terbiasa dengan rasa asli makanan.
Prinsip terbaik untuk bayi adalah makanan sederhana, segar, dan sesuai usia. Saat anak bertambah usia, orang tua dapat mulai mengenalkan variasi rasa secara bertahap. MSG tetap perlu digunakan secukupnya dan tidak menggantikan kualitas bahan makanan.
MSG tidak terbukti merusak ginjal pada orang sehat jika dikonsumsi dalam jumlah wajar. Sumber ilmiah dari Zhou et al. (2023) menjelaskan bahwa glutamat terutama dimetabolisme di usus, hati, otot, dan jaringan lain. Sebagian kecil hasil metabolisme dapat dikeluarkan melalui ginjal.
Hal yang perlu diperhatikan adalah total natrium. WHO menjelaskan bahwa natrium terdapat dalam garam dan juga dalam sodium glutamate. Asupan natrium berlebih dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi dan risiko penyakit ginjal.
Orang dengan penyakit ginjal perlu mengikuti batas natrium dari dokter atau ahli gizi. MSG bisa saja digunakan sedikit, tetapi tidak boleh membuat total rasa asin dalam makanan menjadi berlebihan. Fokus utama tetap pada kontrol natrium harian.
MSG tidak terbukti merusak otak manusia jika dikonsumsi dalam jumlah wajar melalui makanan. Kekhawatiran tentang MSG dan otak sering berasal dari penelitian hewan dengan dosis tinggi atau cara pemberian yang tidak sama dengan pola makan manusia.
Sumber awal yang kuat untuk bagian ini adalah Fernstrom (2018) dalam artikel berjudul Monosodium Glutamate in the Diet Does Not Raise Brain Glutamate Concentrations or Disrupt Brain Functions. Fernstrom menjelaskan bahwa konsumsi MSG melalui makanan tidak meningkatkan kadar glutamat di otak dan tidak mengganggu fungsi otak. Hal ini berkaitan dengan adanya blood-brain barrier atau sawar darah-otak.
Sumber lain dari Zhou et al. (2023) juga menyebut bahwa glutamat sulit melewati blood-brain barrier. Jika ada bagian kecil yang masuk, glutamat dapat dimetabolisme di jaringan otak.
FDA juga menyatakan MSG sebagai bahan pangan yang berstatus generally recognized as safe atau GRAS. FDA menyebut bahwa studi pada orang yang mengaku sensitif MSG tidak selalu berhasil memicu reaksi secara konsisten dalam uji terkontrol.
Sebagian orang tetap bisa merasakan keluhan ringan setelah makan makanan tertentu. Mayo Clinic menyebut keluhan yang pernah dilaporkan meliputi sakit kepala, rasa hangat, kesemutan, berdebar, mual, dan nyeri otot. Namun, Mayo Clinic juga menjelaskan bahwa peneliti belum menemukan bukti jelas yang menghubungkan MSG dengan gejala tersebut pada semua orang.
Apakah MSG berbahaya? Jawaban paling tepat adalah tidak berbahaya bagi sebagian besar orang jika digunakan secukupnya dalam makanan. MSG telah dinilai aman oleh beberapa lembaga pangan. Namun, penggunaan MSG tetap perlu disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, dan total asupan natrium harian.
Anak toddler, lansia, ibu hamil, ibu menyusui, dan orang sehat umumnya tidak perlu takut berlebihan pada MSG. Bayi belum membutuhkan tambahan MSG, tetapi anak toddler dapat mulai mengenal MSG dalam jumlah kecil melalui masakan rumahan yang bergizi. Orang dengan penyakit ginjal, hipertensi, atau pembatasan natrium perlu lebih cermat.
MSG bukan racun dalam penggunaan normal. Masalah yang lebih sering muncul adalah pola makan tinggi makanan ultra-proses, tinggi garam, tinggi lemak, dan rendah serat. Gunakan MSG secukupnya. Utamakan makanan segar, porsi seimbang, dan cara masak yang sehat.