Sasa MSG adalah brand asal asli Indonesia yang sudah dikenal turun-temurun. Banyak orang mengenal Sasa sebagai bumbu masak yang menghadirkan rasa gurih khas masakan rumah. Di balik rasa gurih tersebut, banyak orang masih penasaran.
Beberapa pertanyaan yang sering muncul, yaitu:
MSG memang sering digunakan dalam masakan sehari-hari. Namun, masih banyak orang yang belum memahami seluk beluknya. Artikel ini akan membahas Sasa MSG secara lengkap.
Pembahasan dimulai dari:
MSG adalah singkatan dari monosodium glutamate. MSG merupakan bumbu penguat rasa yang memberi sensasi gurih atau umami pada makanan. Umami dikenal sebagai rasa dasar kelima setelah manis, asam, pahit, dan asin.
MSG sering dianggap sebagai bahan yang hanya ada di produk kemasan. Padahal, rasa gurih dari MSG berasal dari glutamat. Glutamat adalah asam amino yang juga terdapat secara alami dalam banyak bahan makanan.
Secara alami, glutamat dapat ditemukan pada:
Artinya, rasa umami bukan sesuatu yang asing bagi tubuh. Rasa ini sudah ada dalam berbagai makanan sehari-hari dan aman dikonsumsi.
MSG kemasan hadir sebagai bentuk praktis dari rasa umami tersebut. Dengan MSG, proses memasak menjadi lebih efisien. Masakan juga dapat memiliki rasa gurih yang lebih konsisten tanpa perlu menggunakan banyak bahan tambahan.
Sasa MSG terbuat dari tetes tebu alami atau molase, bahan baku dari alam Indonesia. Tetes tebu adalah hasil samping dari proses pengolahan gula. Bahan ini kemudian diproses melalui teknologi fermentasi untuk menghasilkan MSG berkualitas.
Proses pembuatan Sasa MSG dimulai dari tetes tebu atau molase. Bahan ini menjadi sumber gula bagi mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut berperan penting dalam proses fermentasi. Proses fermentasi MSG mirip dengan prinsip pembuatan makanan fermentasi lain. Contohnya:
Bentuk kristal putih pada Sasa MSG berasal dari proses pemurnian dan pengeringan. Setelah fermentasi selesai, hasilnya diproses hingga menjadi larutan MSG. Larutan tersebut kemudian dikristalkan. Hasil akhirnya adalah butiran putih yang mudah digunakan untuk memasak.
Sasa dikenal sebagai salah satu pelopor produksi MSG di Indonesia. Perusahaan ini memiliki fasilitas produksi sendiri. Saat ini, Sasa juga telah berkembang dengan berbagai lini produk.
Produknya meliputi:
Sejarah MSG berawal dari penemuan rasa umami. Pada tahun 1908, ilmuwan Jepang bernama Kikunae Ikeda meneliti rasa gurih pada kaldu rumput laut atau kombu. Ia menemukan bahwa rasa gurih tersebut berasal dari glutamat. Penemuan itu menjadi dasar lahirnya istilah umami. Dalam bahasa Jepang, umami berarti rasa gurih dan lezat.
Setelah penemuan tersebut, MSG mulai dikembangkan sebagai bentuk praktis dari rasa umami. Awalnya, MSG dibuat dari ekstrak rumput laut. Seiring perkembangan teknologi pangan, MSG kemudian diproduksi melalui fermentasi bahan nabati berupa:
Rasa umami memang ditemukan di Jepang. Namun, Sasa adalah brand asli asal Indonesia. Sasa MSG diproduksi oleh PT Sasa Inti. Nama Sasa merupakan singkatan dari “Sari Rasa”. Perusahaan secara resmi berdiri dengan nama PT Sasa Inti pada 28 November 1972.
Akar kegiatan usaha Sasa bermula dari pendirian pabrik fermentasi di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1968. Pada tahap awal, pabrik tersebut memproduksi mononatrium glutamat atau MSG sebagai penyedap rasa. Hingga saat ini, Sasa dikenal sebagai perusahaan FMCG makanan dan bumbu masak terkemuka dari Indonesia.
PT Sasa Inti kemudian berdiri secara resmi pada tahun 1972. Setelah itu, Sasa terus memperkuat produksi dan memperluas lini produknya. Sasa mulai mengembangkan produk:
Langkah ini membuat Sasa semakin dekat dengan kebutuhan dapur keluarga Indonesia. Sasa tumbuh bersama kebiasaan memasak keluarga Indonesia. Karena itu, Sasa bukan hanya dikenal sebagai penyedap rasa. Sasa juga identik dengan cita rasa masakan rumah yang gurih, sederhana, dan akrab di lidah.
MSG aman dikonsumsi selama digunakan dalam takaran yang wajar. BPOM Republik Indonesia mengizinkan MSG sebagai bahan tambahan pangan penguat rasa. FDA di Amerika Serikat juga menggolongkan MSG sebagai bahan pangan yang aman dikonsumsi.
FDA menjelaskan bahwa MSG saat ini dapat diproduksi melalui fermentasi bahan alami. Bahan tersebut dapat berupa:
Proses ini sejalan dengan proses pembuatan MSG modern yang menggunakan fermentasi.
| Lembaga | Penjelasan Keamanan MSG |
| BPOM Republik Indonesia | BPOM Republik Indonesia mengizinkan MSG sebagai bahan tambahan pangan penguat rasa. |
| FDA di Amerika Serikat | FDA di Amerika Serikat juga menggolongkan MSG sebagai bahan pangan yang aman dikonsumsi. |
| JECFA dari FAO dan WHO | JECFA dari FAO dan WHO juga menilai MSG aman digunakan dalam pangan. |
JECFA dari FAO dan WHO juga menilai MSG aman digunakan dalam pangan. Lembaga tersebut mencantumkan ADI atau Acceptable Daily Intake untuk MSG sebagai “not specified”. Artinya, MSG dinilai aman jika digunakan sesuai praktik pangan yang baik dan dalam takaran wajar.
Semua jenis penyedap rasa memiliki batas konsumsi aman harian, baik:
Meski aman digunakan, MSG tetap perlu dikonsumsi secara bijak dan tidak berlebihan.
Merujuk aturan BPOM, batas aman penggunaan MSG adalah sekitar 4–6 gram per hari per orang. Untuk orang dewasa, batas konsumsi MSG harian yang sering digunakan sebagai acuan adalah sekitar 6 gram per hari. Jumlah ini setara dengan kurang lebih 1½ sendok teh.
| Pembahasan | Penjelasan |
| Acuan batas aman | Merujuk aturan BPOM, batas aman penggunaan MSG adalah sekitar 4–6 gram per hari per orang. |
| Batas konsumsi orang dewasa | Untuk orang dewasa, batas konsumsi MSG harian yang sering digunakan sebagai acuan adalah sekitar 6 gram per hari. |
| Takaran sendok teh | Jumlah ini setara dengan kurang lebih 1½ sendok teh |
Dalam penggunaan sehari-hari, konsumsi MSG biasanya jauh lebih rendah dari angka tersebut. Alasannya sederhana. Jika MSG digunakan terlalu banyak, rasa makanan justru menjadi kurang enak.
MSG juga dapat membantu mengurangi penggunaan garam. Kandungan natrium dalam MSG lebih rendah daripada garam dapur. MSG mengandung sekitar sepertiga natrium dari garam dapur. Karena itu, sebagian garam dalam masakan dapat diganti dengan MSG agar rasa tetap gurih.
Penggunaan MSG dalam masakan sehat dapat memberi manfaat. Makanan terasa lebih lezat. Selera makan juga dapat meningkat. Manfaat ini berguna bagi orang yang sedang sakit, lansia, atau orang dengan nafsu makan menurun.
Namun, penggunaan MSG tetap perlu bijak. Gunakan secukupnya pada makanan bergizi. Pilih bahan makanan segar seperti:
Dengan penggunaan yang tepat, Sasa MSG dapat membantu menghadirkan rasa umami yang gurih, lezat, dan akrab di lidah. Masakan rumah pun terasa lebih nikmat dan habis tanpa sisa.