MSG sering dikaitkan dengan berbagai mitos. Salah satu mitos yang paling populer adalah anggapan bahwa MSG bikin bodoh. Padahal, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa konsumsi MSG dalam jumlah wajar dapat menurunkan kecerdasan atau membuat seseorang menjadi bodoh.
MSG adalah bumbu penguat rasa yang memberikan sensasi gurih atau umami pada makanan. Rasa umami bukan hal asing bagi tubuh karena juga terdapat secara alami pada berbagai bahan makanan sehari-hari. Jadi, bagi kamu para micin lovers, tidak perlu panik.
Bagi banyak keluarga Indonesia, Sasa MSG sudah menjadi bagian dari masakan rumah sejak lama. Namun, seperti bumbu dapur lainnya, MSG tetap perlu digunakan secara bijak dan secukupnya.
MSG adalah singkatan dari monosodium glutamate. MSG merupakan bumbu penguat rasa yang digunakan untuk menambah cita rasa gurih pada makanan. Rasa gurih ini dikenal dengan istilah umami.
Umami adalah rasa dasar kelima setelah manis, asam, pahit, dan asin. Rasa ini membuat makanan terasa lebih sedap, lebih gurih, dan lebih menggugah selera.
MSG terdiri dari natrium dan glutamat. Natrium juga terdapat pada garam dapur. Sementara itu, glutamat adalah asam amino yang secara alami ada di dalam tubuh manusia dan banyak bahan makanan.
Secara alami, glutamat dapat ditemukan pada daging sapi, daging ayam, seafood, keju, rumput laut, jamur, tomat, kedelai, bawang, dan brokoli. Artinya, rasa umami bukan hanya berasal dari MSG kemasan. MSG kemasan hadir sebagai bentuk praktis untuk memperkuat cita rasa umami sehingga proses memasak menjadi lebih efisien dan rasa masakan lebih konsisten.
Anggapan bahwa MSG bikin bodoh lebih banyak berasal dari mitos dan persepsi lama. Di Indonesia, istilah “generasi micin” membuat MSG seolah-olah identik dengan penurunan kecerdasan. Padahal, istilah tersebut bukan istilah medis maupun ilmiah.
Salah satu alasan MSG sering dipahami keliru adalah karena glutamat juga dikenal sebagai neurotransmiter, yaitu zat yang membantu komunikasi antarsel saraf di otak. Dari sinilah muncul kekhawatiran bahwa glutamat dari makanan dapat langsung mengganggu otak. Namun, glutamat dari makanan tidak bisa disamakan begitu saja dengan glutamat yang bekerja di sistem saraf.
Bukti ilmiah yang lebih kuat dijelaskan oleh John D. Fernstrom (2018) dalam artikel tinjauan Monosodium Glutamate in the Diet Does Not Raise Brain Glutamate Concentrations or Disrupt Brain Functions. Artikel ini menelaah berbagai penelitian pada hewan pengerat, primata non-manusia, dan manusia.
Hasil utamanya jelas: konsumsi MSG melalui makanan tidak menaikkan kadar glutamat otak dan tidak mengganggu fungsi otak. Menurut Fernstrom, konsumsi MSG dalam pola makan normal tidak menyebabkan kenaikan glutamat darah yang berarti, kecuali jika diberikan dalam jumlah eksperimen yang sangat besar dan jauh melebihi konsumsi biasa.
Fernstrom juga menjelaskan bahwa tubuh memiliki pelindung alami bernama blood-brain barrier atau sawar darah-otak. Sawar ini membatasi masuknya glutamat dari darah ke otak. Karena itu, glutamat otak hanya meningkat pada kondisi eksperimen yang tidak mencerminkan cara orang makan sehari-hari.
Dengan kata lain, MSG yang digunakan secara wajar dalam makanan tidak membuat glutamat menumpuk di otak. Inilah alasan ilmiah mengapa konsumsi MSG dalam makanan tidak terbukti membuat seseorang menjadi bodoh atau mengganggu fungsi otak.
MSG aman dikonsumsi selama digunakan dalam takaran wajar. FDA mengkategorikan MSG sebagai Generally Recognized as Safe (GRAS) atau bahan pangan yang secara umum diakui aman jika digunakan sebagaimana mestinya.
JECFA dari FAO dan WHO juga menilai MSG aman digunakan dalam pangan. Lembaga tersebut mencantumkan ADI atau Acceptable Daily Intake untuk MSG sebagai “not specified”. Artinya, MSG dinilai aman jika digunakan sesuai praktik pangan yang baik dan dalam takaran wajar.
Sebagian orang mungkin sensitif terhadap MSG. Gejala yang dilaporkan biasanya ringan dan sementara, seperti sakit kepala, rasa tidak nyaman, atau jantung berdebar. Namun, kondisi ini tidak sama dengan penurunan kecerdasan. Keluhan ringan pada sebagian orang sensitif bukan bukti bahwa MSG merusak otak.
Semua jenis penyedap rasa, termasuk garam, gula, bumbu kaldu, maupun MSG, perlu digunakan secara bijak.
Merujuk aturan BPOM, batas aman penggunaan MSG adalah sekitar 4–6 gram per hari per orang. Untuk orang dewasa, batas konsumsi MSG harian yang sering digunakan sebagai acuan adalah sekitar 6 gram per hari. Jumlah ini setara dengan kurang lebih 1½ sendok teh.
Dalam penggunaan sehari-hari, konsumsi MSG biasanya jauh lebih rendah dari angka tersebut. Jika MSG digunakan terlalu banyak, rasa makanan justru menjadi kurang enak. Jadi, sedikit MSG saja sudah cukup untuk membantu memperkuat rasa gurih pada masakan.
Sasa MSG terbuat dari tetes tebu atau molase yang diproses melalui teknologi fermentasi. Hasil fermentasi kemudian dimurnikan, dikristalkan, dan dikeringkan hingga menghasilkan butiran kristal putih yang mudah larut dan mudah digunakan saat memasak.
Bentuk kristal ini membuat Sasa MSG mudah ditakar, mudah larut, dan mudah tercampur dalam berbagai masakan. Karena itu, Sasa MSG cocok digunakan untuk sayur sop, tumisan, nasi goreng, ayam goreng, sup, sambal, dan berbagai menu keluarga lainnya.
Sebagai brand asli Indonesia, Sasa telah menjadi bagian dari dapur keluarga Indonesia selama puluhan tahun. Nama Sasa berasal dari “Sari Rasa”, yang mencerminkan komitmennya dalam menghadirkan cita rasa lezat untuk berbagai masakan.
Mitos bahwa MSG bikin bodoh tidak didukung bukti ilmiah yang kuat pada manusia. Penelitian laboratorium memang pernah membahas efek MSG pada sel saraf, tetapi kondisi tersebut tidak sama dengan konsumsi MSG melalui makanan sehari-hari.
Sebaliknya, artikel tinjauan Fernstrom (2018) menunjukkan bahwa konsumsi MSG dalam makanan tidak meningkatkan kadar glutamat otak dan tidak mengganggu fungsi otak. Tubuh memiliki mekanisme alami, termasuk sawar darah-otak, yang membantu menjaga keseimbangan glutamat di otak.
Selama digunakan dalam jumlah wajar sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang, MSG merupakan bumbu penguat rasa yang aman digunakan. Sasa MSG dapat menjadi pilihan praktis untuk menghadirkan cita rasa umami yang gurih dan lezat pada berbagai masakan rumahan.